Writer: Josh Stolberg
Cast: Audrina Patridge, Jamie Chung, Rumer Willis, Margo Harshman, Briana Evigan, Leah Pipes
Enam orang mahasiswi, Casidy (Briana Evigan), Ellie (Rumer Willis), Jessica (Leah Pipes), Claire (Jamie Chung), Chugs (Margo Harshman) dan Megan (Audrina Patridge) tergabung dalam satu kumpulan mahasiswa yang cantik, ceria, dan tentunya seksi. Ketika Megan mengetahui pacarnya, Garret (Matt O’Leary), berselingkuh ia mencoba untuk balas dendam dengan bercinta dengan Garret tapi direkam oleh kamera Video.
Dalam Rencananya, Megan yang dibantu teman-temannya, merencanakan pura-pura mati karena keracunan. Kontan Garret yang habis berciuman dengan Megan panik. Teman-teman Megan juga berpura-pura panik dan membantu Garret untuk membuang tubuh Megan. Sejauh ini lelucon yang dibuat kelompok cewek seksi ini berhasil membuat Garret panik setengah mati tapi apa yang terjadi selanjutnya.
Karena terlalu panik Garret jadi tidak terkontrol, dia malah membunuh Megan dengan kunci pembuka ban mobil. Tentu saja hal ini sangat mengejutkan teman-teman Megan karena sebenarnya Megan masih hidup. Lelucon yang seharusnya mengocok perut malahan berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Kini merekalah yang berbalik jadi panik dan setuju untuk membuang tubuh Megan ke dalam sumur serta berjanji akan merahasiakan hal ini.
Setahun kemudian, saat upacara kelulusan mereka, teror mulai menghantui mereka. Kejadian mengerikan setahun lalu ternyata masih berlangsung. Seorang pembunuh dengan senjata kunci pembuka ban mobil yang telah dimodifikasi membunuh satu-persatu orang yang terlibat pembunuhan Megan serta orang-orang yang mengetahui pembunuhan itu. Rupanya ada seseorang yang mengetahui bahwa Megan dibunuh. Siapa pembunuh bersenjata kunci pembuka mobil itu?
* * *
Sorority Row sendiri merupakan remake dari film cult Slasher di Amerika berjudul The House on Sorority Row (1983) karya Mark Rosman. Film aslinya menceritakan tentang kelompok mahasiswi yang ingin mengadakan pesta kelulusan tapi tak diperbolehkan sama induk semangnya. Mereka pun berniat untuk menjahilinya tapi akhirnya berujung pada kematian. Film yang dibintiangi oleh Kate McNeil, Eillen Davidson, Janis Ward dan Robin Meloy ini walau dengan budget yang rendah film ini mampu menjadi film klasik dan menjadi cult di Amerika.
Oke…balik ke film Sorority Row (2009). Tidak ada hal baru yang ditawarkan dalam film besutan Stewart Hendler ini. Semua keklisean yang terdapat dalam film horror jenis Slasher hampir bisa ditemui dalam film ini. Mulai dari sang pembunuh dengan samarannya plus senjata khasnya (dalam film ini kunci pembuka ban mobil) , korban-korbannya dimana dalam film slahser para korbannya hampir selalu gadis cantik, pria muda dan kebanyakan menjengkelkan serta pasti ada satu-dua orang korban yang selamat dan terakhir yang harus selalu ada di film jenis Slasher adalah kekejaman yang menjadi sorotan lebih dan menjadi nilai jual dalam film jenis ini. Tapi kayaknya semua jenis film Slasher ya kayak gini yah…
Mengenai akting para pemainnya biasa aja mungkin karena artis-artis di film ini namanya tidak pernah terdengar, pemain baru semua. Kalau soal kekejaman pembunuhan yang ditawarkan film ini juga biasa. Botol beer yang dimasukin ke mulut oleh pembunuhnya kemudian lehernya ditusuk pisau, mulut cewek yang ditusuk sampai tembus tembok, dan beberapa aksi si pembunuh hampir sama semuanya. Bagi sebagian cewek-cewek sih, kejadian-kejadian ini mampu buat mereka teriak tapi bagi saya sih masih biasa, ga ada yang baru.
Yah, film jenis ini emang film horror yang ada di urutan terakhir daftar film yang bakalan saya beli, kecuali kalau tokoh slashernya memang sudah terkenal seperti Jason Vorhees, Freedy Krueger, Michel Myers. Saya lebih milih film-film yang bertema supranatural, hantu-hantu seperti Ju-On, Ringu, Shutter, dan lain-lain. Aura di film dimana hantu sebagai tokoh utamanya lebih kuat, lebih mampu buat saya merinding apalagi ditontonya malam-malam.
yah, film ini cocoknya jadi penyelip di sela-sela bukumu. Saya juga beli ini karena hampir semua review yang saya baca bilang banyak banget adegan seks dan toplessnya. Setelah disaksikan ehmmm “mending gue nonton bokep dah”
Rank: 2/5












duh belom nonton film ini dan kayanya nga minat nonton hahaha
[Reply]
@raditherapy: ga usah nonton…biasa aja filmnya…
[Reply]
brarti ga ada adegan seksnya ya, ka? kalo ada, aku pinjem dong. :p
[Reply]
haha..jadi akhirnya nonton bokep ya bos
ini mah emang film slasher boring pisan bos, tipikal ‘I Know what You Did last Summer’.
kalo mau slasher yang bagus coba : ‘ Inside’, Martyrs’ atau ‘Haute Tension’
[Reply]
a!: ga ada mas, cuma ngeliatin “nyonyo” aja/ nyonyo: payudara
horrorpopcorn: Wah, Inside yang film Prancis itu yah? saya dah punya bosa, tapi belum ditonton…Martyrs sama Haute Tension lagi nyari nih…
[Reply]
waduh, itu covernya ga kayak film horror. btw ka, kok cursornya sering loncat dari kolom komentar ke kolom website ya? ama saran lagi 1, knp ga tambahin plugin biar pembaca bisa ngerate filmnya? kan asik tuh…
[Reply]
kalau saya soal film sekarang hanya cari film lucu, itupun di luar bukan indonesai yg sekrang dibumbui sex
soalya seneng kalau bisa nonton bareng ponakan ponakan dan mereka tertawa
walau seakrang susahnya minta ampunc ari film bagus tanpa sex
apa semua ‘mulai’ sutradara mikir sempit yakkkk
[Reply]
kayaknya bunuh2an mirip scream ya Ka?
[Reply]
@mas doyok: menurut saya tidak semuanya sutradara seperti itu yah, kebanyakan sih produsernya kayaknya yang ingin memasukkan unsur sex, karena jujur unsur sex ini jadi salah satu pemicu film bakalan dicari…penonton masih suka sih sama sex-sex gitu
@putri: yah put, semacam Scream gitu…
[Reply]
Saya kecewa dengan review-mu kali ini Ka… kalo memang benar ada tampilan nyonyo-nya, mbok ya dipublish juga disini…
[Reply]