Review: Vertige (2009)

Lima pemuda Prancis, Fred (Nicolas Giraud) dan kekasihnya Karine (Maud Wyler), Chloe (Fanny Valette) yang juga bersama sang kekasih Loic (Johan Libéreau) serta Guillaume (Raphaël Lenglet) yang merupakan mantan kekasih Chloe memutuskan untuk melakukan pendakian di sebuah gunung di Kroasia. Dari kelima pemuda ini, Loic tidak mempunyai pengalaman mendaki sebuah gunung. Tujuan Loic ikut liburan karena sang kekasih suka dengan kegiatan ini apalagi Chloe sedang dirundung kesedihan karena pasiennya mati di hadapannya. Lagian mantan kekasih Chloe ikut dalam kegiatan ini.

Mereka mendaki pegunungan, padahal sudah ada tanda larangan. Peraturan ada untuk dilanggar, mereka pun memutuskan mendaki gunung itu tanpa menghiraukan tanda larangan itu. Yah, melanggar peraturan tentu saja harus siap menerima konsekuensinya. Pengalaman buruk pun sudah siap menanti mereka di depan. Diawali dengan putusnya jembatan gantung yang hampir saja membunuh Karine, putusnya tali pembantu yang mengharuska Fred dan Karine naik ke puncak tebing untuk membantu tiga temannya. Loic yang tidak punya pengalaman dan takut dengan ketinggian inipun mulai membuat masalah. Dan satu-persatu mulai mengalami kejadian yang buruk. Sanggupkah mereka bertahan?

Saat melihat cover DVD ini saya cukup tertarik karena saya pikir cerita dalam film ini mengenai bagaimana sekelompok orang mengalami nasib buruk saat melakukan kegiatan pendakian. Tapi ternyata isi dalam film berbeda dengan apa yang saya pikirkan. Di awal film penonton disuguhi keindahan alam pegunungan serta hutan yang memang indah. Berlanjut kemudian dengan aksi sekelompok pemuda yang menyusuri tebing-tebing pegunungan. Ketegangan film mulai terlihat ketika Loic merasa ketakutan akan ketinggian. Adegan ini sedikit membuat saya ikut merasakan ketegangan terlebih ketika kamera menyorot ke bawah dari pandangan Loic. Ya saya memang trauma akan ketinggian melihat video yang memperlihatkan ketinggian saja saya sudah takut. Apalagi ada adegan dimana jembatan yang mereka seberangi tiba-tiba putus. Abel Ferry selaku sutradara disini cukup memberikan ketegangan di adegan-adegan awal ini.

Semakin kebelakang Vertige yang di Amerika sana berjudul High Lane mulai terasa membosankan. Vertige menjadi sebuah tontonan yang tidak lagi menampilkan ketegangan apalagi setelah saya tahu ternyata kisahnya tidak seperti yang saya bayangkan. Tidak ada lagi tebing-tebing, tidak ada lagi ketegangan saat pemuda-pemuda disini mulai mengalami kecelakaan saat mendaki. Muncullah sosok pemburu gila bernama Anton yang membunuh satu-persatu pemuda disini. Sosok gila si Anton inilah yang membuat film ini berubah menjadi film slasher dengan plot cerita yang klise. Pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan si gila ini juga bisa dibilang sangat-sangatlah biasa, tanggung, kurang sadis dan lainnya. Sebenarnya Vertige bisa menjadi sebuah tontonan yang bagus apabila Abel Ferry setia dengan adegan di tebing-tebing hingga di akhir film atau mungkin adegan-adegan setelah kemunculan Anton ini dibuat lebih menegangkan.

Beruntunglah film ini dibantu dengan sinematografi yang menampilkan keindahan pemandangan disini plus tata music yang mampu menemani adegan-adegan ketegangan di film ini (tapi tetap saya masih belum 100% menikmati keteganganya). Yah…Meskipun kemunculan sosok Anton gila ini cukup mengganggu saya untuk menikmati film ini, Vertige cukup lumayanlah untuk ditonton sebagai hiburan disela-sela kesibukan anda.

This entry was posted in Review, Slasher, Survival and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>